SEJARAH SINGKAT KELURAHAN YOSODADI

ASAL USUL KELURAHAN YOSODADI

Pada tahun 1937 datang rombongan kolonisasi dari Pulau Jawa yang di tempatkan di bedeng 21 polos sejumlah 91 KK dan bedeng 21.A sejumlah 86 KK sehingga jumlah seluruhnya 177 KK. Rombongan kolonisasi tersebut berasal dari Yogyakarta dan Ponorogo    ( Jawa Timur ).Sebelum menempati bedeng 21 tsb, para kolonis terlebih dahulu dipondokkan di daerah yang sudah dibuka/digarap guna mendapatkan penghasilan dengan cara derep/bawon, sehingga memperoleh bekal pangan,  Setelah cukup memperoleh bekal, para kolonis  dipindahkan ke  tempat yang baru yaitu bedeng no.21.A dan 21. Polos. Pimpinan para kolonis tsb adalah saudara Kadiman.Di tempat yang baru , mereka mengadakan gotong-royong menebang hutan guna dijadikan lahan pekarangan dan ditanami tanaman pangan , lokasi  baru tersebut penduduknya berjumlah sekitar 177 KK.

Pada tahun 1938 datang lagi rombongan kolonisasi yang kedua yaitu dari Wonogiri, Sragen, Boyolali yang ditempatkan di bedeng  no. 21.B sejumlah 88 KK dipimpin oleh saudara RAIS . Di bedeng 21.C sejumlah 150 KK  dipimpin  oleh  saudara  ATMOSENTONO  dan  di  bedeng  21.D sejumlah 151 KK dipimpin oleh saudara  ABDURRAHMAN .Setelah menetap kurang lebih 3 ( tiga ) bulan , rombongan tsb dipekerjakan untuk membuat ledeng / saluran irigasi tanpa upah , hanya sekedar diberi satu kilogram beras sebagai bahan makanannya . Setelah dipekerjakan membuat saluran hingga selesai , maka rombongan tersebut diberi bagian hutan sebagai calon lahan-lahan pekarangan dan sawah, selanjutnya penebangan hutan dilakukan secara gotong royong.

ASAL USUL PEMBENTUKAN PEMERINTAHAN

Pada  tahun  1938 belum dibentuk / ditunjuk pamong desa hanya baru dibentuk / ditunjuk pimpinan bedeng ( kepala bedeng ) dan dibantu tenaga administrasi serta Jagabaya . Kondisi sarana transportasi perhubungan masih cukup sulit , sedangkan jalan – jalan darurat yang ada baru jalan rute Metro  ke  Tanjung  Karang . Jadi wilayah ini masih merupakan umbul tertutup .Tahap demi tahap rombongan kolonisasi mengalir terus sehingga bedeng No.21 menjadi luas wilayahnya. Kemudian pada tahun 1940 setelah memenuhi syarat untuk dijadikan desa dibentuklah susunan desa.Menjelang menjadi Desa Vak. J  No.21 masing-masing Kepala Bedeng diangkat menjadi Kepala Desa yang terdiri dari :

  1. Bedeng 21  menjadi  Desa  Yosodadi
  2. Bedeng 21  A  menjadi  Desa  Yosorejo
  3. Bedeng 21  B  menjadi  Desa  Yosomukti
  4. Bedeng 21  C  menjadi  Desa  Yosomulyo
  5. Bedeng 21  D  menjadi  Desa  Yososari

Masing – masing  Kepala  Desa  tersebut mempunyai tenaga pembantu , yaitu seorang Carik  dan Kebayan serta seorang Jagabaya. Kemudian setelah terbentuk / ditentukan Kepala Desanya maka mulailah merintis jalan untuk melancarkan hubungan lalu lintasnya. Sejarah berjalan terus, pertambahan penduduk semakin meningkat dan Desa pun mulai menunjukkan adanya kemajuan. Sesuai dengan langkah Pemerintah Kolonial Belanda pada waktu itu semua pamong desa diganti yaitu Vak. J no.21  diganti menjadi Desa Yosodadi no. 21 dipimpin oleh saudara CIPTO WIYONO yang membawahi wilayah Yosodadi, Yosorejo dan Yososari dengan susunan Pamong desa sebagai berikut :

  1. Kepala Desa : Cipto Wiyono.
  2. Kami Tua : Kadiman.

: Rais.

: Atmo Sentono.

: Abdurahman.

Carik : Cipto Sudarmo.

: Sarip Yoso Sumarmo.

: Prawiro Sumarmo.

: Darmo Suwito.

: Sarjo Prawiro Sukarto.

Dibantu 7 orang bayan dan dua ( 2 ) orang Polisi Desa.

Setelah susunan Pamong Desa Yosodadi no.21 disempurnakan kemudian batas-batas desa ditentukan sebagai berikut :

  1. Sebelah utara : berbatasan dengan Desa Karangrejo.
  2. Sebelah Timur : berbatasan dengan Desa Adirejo.
  3. Sebelah Selatan : berbatasan dengan Desa Metro dan Batanghari.
  4. Sebelah Barat : berbatasan dengan Desa Hadimulyo dan Metro.

Setelah memangku jabatan kurang lebih 5 tahun 3 bulan Kepala Desa CIPTO WIYONO meninggal dunia karena sakit tepatnya tanggal 27 Agustus 1946. Untuk mengisi  kekosongan jabatan Kepala desa tersebut maka saudara CIPTO SUDARMO (Sekdes ) diangkat menjadi Kepala desa.

Pada tahun 1948 saudara CIPTO SUDARMO meletakkan jabatan atas permintaan sendiri, pucuk pimpinan mengalami kekosongan kemudian diadakan pemilihan Kepala desa, sebagai hasil pemilihan tersebut terpilih saudara SUMARDI MARTO PAWIRO ( dalam sejarah pembentukan desa Yosodadi baru pertama kali diadakan pemilihan Kepala desa dan yang terpilih sdr. Sumardi Marto Pawiro ).

Saudara Sumardi Marto Pawiro belum lama memangku jabatan Kepala desa , pada tahun 1949 ( Agresi Belanda ke II )  yang bersangkutan diculik oleh tentara Belanda hingga sampai wafatnya. Untuk mengisi kekosongan jabatan Kades tersebut saudara ATMOSENTONO ditunjuk sebagai Pjs Kades sambil menunggu keputusan dari atasan.

Sejarah berkembang terus , desapun berkembang pula sesuai dengan pertambahan penduduk , maka pada tanggal 2 Februari 1950 masa jabatan Kepala Desa berakhir.  Kemudian diadakan pemilihan Kepala Desa maka terpilih Sdr. R. SUMALI WIRYOHARTONO menjadi Kades Yosodadi 21 yang kelima sekaligus menyempurnakan susunan pamong sebagai berikut :

  1. Kepala Desa : R. SUMALI WIRYOHARTONO
  2. Carik : PAWIRO SUMARTO.

: BROJO DISASTRO.

  1. Kami Tua : KADIMAN.

: ATMOSENTONO.

Dibantu 7 kebayan dan 2 orang Polisi Desa.

Pada tahun 1965 diadakan peremajaan pamong desa dan hasil peremajaan tersebut sdr. R. SUMALI WIRYOHARTONO  dipilih kembali oleh rakyat sehingga tetap menjabat  Kepala desa Yosodadi 21.

Seluruh pamong desa diganti dengan susunan sebagai berikut :

  1. Kepala Desa : R. SUMALI WIRYOHARTONO.
  2. Kami Tua : YAKUB.

: SOMOPAWIRO.

Carik : GIMIN. Is.

: SISWOYO.

Kebayan : 1. SUWARJO.

: 2. M. NUR.

: 3. P. SUKIMAN.

: 4. SUYONO.

: 5. JUMADI.

: 6. KARTO PAWIRO.

: 7. WIRO SARJONO.

: 8. WAGIYO.

: 9. DAWUD.

: 10 ATMO WINANGUN.

: 11 HAMBALI.

: 12 PRINGGO HADI.

Bertepatan dengan saat peremajaan desa tersebut Bangsa Indonesia memasuki Orde Baru. Sejak memasuki Orde Baru warga masyarakat Yosodadi mulai menyusun ekonomi yang teratur atau dengan kata lain  alam pikiran masyarakat yang tadinya berorientasi pada politik kini berubah pada alam pikiran yang berorientasi pada pembangunan. Sejak dibukanya bedeng – bedeng tersebut pada tahun 1938 telah disediakan beberapa hektar tanah untuk persiapan rencana pembangunan Balai Desa dan Sekolah Dasar ( SD ). Pada tahun 1939 telah terbangun sebuah Sekolah Dasar di Yosodadi bagian ujung timur, karena dirusak oleh binatang buas dan gajah , maka dibangun lagi Sekolah Dasar berlokasi di tengah – tengah desa yang struktur bangunannya lebih ditingkatkan . Kita ketahui bahwa perkembangan penduduk semakin lama semakin meningkat sehingga bangunan SD yang ada tidak dapat menampung lagi pertambahan murid, maka pada tahun 1952 dibangunlah sebuah SD dibagian utara Yosodadi yang merupakan Sekolah Dasar ke-2 .Untuk meningkatkan kelancaran hubungan antara wilayah 21 . C   dan  wilayah  21 . A  di bagian selatan  dengan wilayah  21 . B  dan wilayah  C  serta  wilayah D di bagian utara ( kedua wilayah ini dipisahkan oleh saluran sekunder / ledeng dan rawa), maka pada tahun  1969 / 1970 dibangunlah jembatan darurat pada saluran sekunder dan rawa tersebut.

Seiring dengan perkembangan jaman dan tuntutan pembangunan di segala bidang ( pembangunan sarana fisik sudah cukup maju , jumlah penduduknya cukup padat , kondisi ekonominya cukup mantap dan letaknya dekat dengan perkotaan), maka pada tahun 1981 desa Yosodadi berubah statusnya menjadi Kelurahan yang berpedoman pada Undang – undang  Nomor 5 tahun 1979 , yaitu dengan susunan struktur pemerintahan sebagai berikut

  1. Kepala Desa / Lurah               :  R.SUMALI WIRYO HARTONO
  2. Sekretaris Kelurahan               :  RIDWAN
  3. Kepala Urusan                         :  5 orang
  4. Kepala Lingkungan                 :  12 orang

Nama – nama Kepala Desa / Kelurahan yang pernah menjabat di Desa / Kelurahan Yosodadi sebagai berikut :

  1. Tahun 1937 s/d  1946  dipimpin  oleh  CIPTO  WIYONO
  2. Tahun 1946 s/d  1948  dipimpin  oleh  CIPTO  SUDARMO (Pjs.)
  3. Tahun 1948 s/d  1949  dipimpin  oleh  SUMARDI MARTO PAWIRO
  4. Tahun 1949 s/d  1950  dipimpin  oleh  ATMO SENTONO (Pjs.)
  5. Tahun 1950 s/d  1981  dipimpin  oleh  R . SUMALI WIRYO HARTONO
  6. Tahun 1981 s/d  1995  dipimpin  oleh  Lurah  NASIR TJIPTO GUNARTO
  7. Tahun 1995 s/d  1999  dipimpin  oleh  Lurah  WAGIYO
  8. Tahun 1999 s/d  2006  dipimpin  oleh  ASRORI
  9. Tahun 2006 s/d  2010  dipimpin  oleh  BASUNI,S.I.P
  10. Tahun 2010 s/d  2012  dipimpin  oleh  I GEDE MADE SUWANDA,S.STP
  11. Tahun 2012 s/d  2014  dipimpin  oleh  DEDI HERYADI, S.Sos.
  12. Tahun 2014 s/d  2016  dipimpin oleh TRIYONO, S.Sos.
  13. Tahun 2016 s/d sekarang dipimpin oleh FITRI MINARNI, SH.,MH.

PEMEKARAN KELURAHAN YOSODADI

Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Metro Nomor 25 tahun 2000 tanggal 16  Desember  2000 Kelurahan Yosodadi dimekarkan menjadi menjadi 3    Kelurahan, yaitu:

  1. Kelurahan Yosodadi
  2. Kelurahan Yosorejo
  3. Kelurahan Yosomulyo

Setelah dimekarkan Kelurahan Yosodadi Kecamatan Metro Timur memiliki batas-batas Kelurahan sebagai berikut :

  1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Yosomulyo Kecamatan Metro Pusat.
  2. Sebelah Timur berbatasan dengan desa Adirejo Kecamatan Pekalongan Kabupaten Lampung Timur.
  3. Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Banjarejo Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung Timur.
  4. Sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan Yosorejo Kecamatan Metro Timur.

 

Jarak Kelurahan Yosodadi  ke Ibukota Kecamatan adalah + 2 km dengan waktu tempuh + 5 menit. Jarak ke Pusat Pemerintahan adalah + 4 km dengan waktu tempuh + 10 menit. Sedangkan jarak ke Ibu Kota Provinsi adalah 60 km dengan waktu tempuh + 1 jam.

Kami merasa sejarah singkat Kelurahan Yosodadi ini masih banyak kekurangan dalam mencakup semua peristiwa yang telah terjadi sampai terbentuknya Kelurahan Yosodadi. Namun demikian uraian singkat ini kami harapkan dapat bermanfaat bagi kita semua, khususnya warga Kelurahan Yosodadi.